Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Aku berbohong, tidak mungkin membawa sekantong beras ke tempat pesta.
"Terserah kamu, Sinar."
"Saya pulang dulu, Bu."
"Hati-hati di jalan."
Aku mencuci kedua tangan di wastafel. Merapikan rambut yang berantakan. Dan, terpaksa aku memesan ojek online karena tempat yang aku tuju lumayan jauh.
Sepanjang perjalanan, perasaan ini sangat gelisah. Teringat perkataan Randu, supaya tidak berharap lagi pada Ibu. Tetapi, aku hanya penasaran. Bukan berharap.