PENGAKUAN ANAKKU
Aku tersenyum miris, dalam hati menertawakan penyesalannya.
"Sudahlah ... kalau Mas tidak mau cerita. Dari tadi ditanyain, kok jawabnya ngawur terus," aku berpura merajuk, lalu bangkit dari kursi yang ada disamping bangkar tempatnya berbaring.
"Jangan, Mih. Jangan pergi," Mas Mahesa memegangi tanganku. Aku menghentikan langkah, menatapnya datar.
"Aku ... aku malu Mih. Sungguh," ucapnya dengan tatapan nanar. "Aku malu sudah mengkhianatimu," sambungnya dengan suara parau.
Bab Populer