Membicarakan 'Dear Nathan' karya Erisca Febriani itu seperti membuka lembaran diary remaja yang sarat dengan gejolak emosi, konflik keluarga, dan percikan cinta pertama yang bikin deg-degan. Novel ini sukses bikin banyak pembaca, terutama kalangan muda, merasa relatable karena setting sekolah dan dinamika hubungan antara Salma dan Nathan yang begitu alami. Aku masih inget betapa nggak bisa berhenti membaca karena alur ceritanya yang bikin penasaran, ditambah karakter Nathan yang cool tapi sebenarnya punya luka dalam dari masa lalunya.
Yang bikin 'Dear Nathan' spesial adalah cara penulis menggambarkan konfliknya. Nggak cuma tentang cinta, tapi juga tentang persahabatan, kepercayaan, dan perjuangan Salma menghadapi tekanan keluarga. Adegan ketika Nathan akhirnya membuka diri tentang trauma masa kecilnya itu bener-bener ngena banget. Aku suka bagaimana Erisca nggak menjadikan karakter utamanya perfect—Salma kadang lebay, Nathan sering tertutup, tapi justru itu yang bikin mereka terasa manusiawi.
Dari segi penulisan, bahasa yang digunakan ringan dan cocok untuk pembaca remaja, meskipun beberapa bagian dialog terkesan agak dramatis. Tapi justru itu yang bikin charm-nya, karena sesuai dengan emosi labil karakter utamanya. Plot twist di akhir tentang rahasia keluarga Nathan juga cukup ngejutin, meskipun beberapa pembaca mungkin bisa nebak dari foreshadowing yang disebar sebelumnya.
Yang sedikit kurang mungkin di pacing beberapa bagian yang terasa agak terlalu cepat, terutama perkembangan hubungan Salma dan Nathan dari benci jadi cinta. Tapi overall, novel ini berhasil banget bikin pembaca ikut merasakan rollercoaster emosi para karakternya. Setelah baca 'Dear Nathan', rasanya pengen langsung cari lanjutannya 'Hello Salma' buat tau kelanjutan kisah mereka.