ANAK TUKANG CUCI PIRING
“Ibu percaya, Allah sudah menyiapkan sesuatu yang jaaauh lebih baik untukmu, Nak. Semua pasti ada hikmahnya.”
Tangisku masih berlangsung, tapi dadaku tak sesesak sebelumnya. Perlahan, aku pun keluar dari pelukan Ibu setelah beberapa lama menumpahkan kesedihan.
“Hapunten Imas, Bu. Sudah mempermalukan Ibu, belum bisa buat Ibu bahagia,” ucapku dengan mata yang masih basah.
Ibu menggeleng, “Imas tidak mempermalukan Ibu. Justru Ibu sangat bangga memiliki buah hati seperti kamu, Nak.”