Kali Kesembilan Dia Pergi
Julisa muncul di pintu, gaunnya bersih tanpa noda, rambutnya tertata rapi, dan senyum kemenangan yang selalu berhasil membuatku muak, terpampang di wajahnya.
"Yah, lihat siapa ini. Kirana Wiranegara yang hebat, berlumuran darah di samping tempat sampah," ucapnya sambil melangkah mendekat. "Ini sudah ke-sembilan kalinya, Kirana. Mau bilang apa lagi?"
Aku menatap Julisa. "Aku kalah."
Dari dalam jas, aku merogoh sebuah dokumen yang terlipat rapi, dokumen yang sudah lama kubuat. "Surat cerai. Sudah kutandatangani. Ambil saja."
Hot Chapters