Kafan Hitam
Setelahnya, dengan cara membungkuk, Rojali mengambil botol minuman dan keresek yang tergeletak tak jauh dari kakinya, lantas menyimpan kembali ke atas dasbor.
“Saya teu nanaon, Den,” timpal Rojali, kembali melirik kaca spion. Pemuda berahang tegas itu mendaratkan punggung ke kursi, merapatkan jaketnya. “Kalau kamu lapar, kamu bisa makan roti sama kue-kue itu, Den. Jangan malu-malu.”
Deni mengangguk walau agak sungkan. Tak sopan rasanya kalau memakan makanan, tetapi pemiliknya belum menyentuhnya lebih dahulu.
Bab Populer