TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR
Flower tampak nyaman, bahkan sempat berguling di lantai teras.
Sekitar pukul tujuh malam, hujan mulai reda. Suasana menjadi tenang, hanya suara tetesan air dari atap yang tersisa. Arga menepuk pelan bahu Hina yang tertidur miring, sambil memangku Flower yang juga terlelap.
“Hina, bangun. Hujannya sudah reda,” katanya pelan.
Hina menguap kecil, lalu menggendong Flower. Mereka bertiga turun dari teras, melewati kebun, dan kembali ke jalan utama.
Hot Chapters