Samaran Terakhir
Wajahnya familiar bukan karena Lena mengenalnya, tetapi karena ia nyaris tertulis oleh Lena suatu hari, sebelum drafnya hilang.
“Kak Lena… kamu ingat aku?”
Lena terdiam. Anak itu adalah Karim, karakter yang ia ciptakan di sela pikirannya, yang tak pernah punya bab sendiri. Namun kini, ia hidup, seperti semua karakter yang dibuang ke latar belakang oleh Editor.
Karim menggenggam sebuah buku kecil. Di sampulnya tertulis: Naskah Karakter Tak Terpakai.
“Kami semua pernah ingin ada. Tapi kami terlalu tidak penting, terlalu aneh, terlalu salah waktu. Editor ingin menghapus kami semua. Tapi kamu bisa menulis ulang kami… bukan?”