Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i

Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i

Ilham meraih gagang pintu dan menariknya hingga pintu terbuka sepenuhnya. Pemandangan area ndalem yang familiar pun menyambut dengan pesona yang menenangkan. Ruang tamu yang tampak tradisional tertata rapi, lengkap dengan karpet-karpet bersih yang tergelar dengan baik di lantai yang mengilap. Di sudut sana, terdapat rak kitab tua yang terbuat dari kayu. Tertata rapi dan seluruh bagiannya sudah penuh, memancarkan aroma kertas kuning yang begitu khas.
104.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 143 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
DUNIAKU YANG HILANG

DUNIAKU YANG HILANG

Mama dan Savanna memberi salam pada Umi Azizah. "Waalaikumsalam, ayo masuk Mama dan Savanna..." Umi mempersilahkan keduanya masuk keruang tamu. Ketika memasuki ruang tamu tampak beberapa dekorasi yang menonjol salah satunya karpet beludru khas Arab, beberapa furniture seperti sofa-sofa rendah tidak memiliki kaki dengan bentuk meja unik. Bantal-bantal pada sofa juga memiliki motif yang mencirikan gaya Arabian. Kaca besar tembus pandang kearea taman yang tertata rapi dengan rumput menghijau, terlihat asri dan menyejukkan mata pemandangnya.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
BLASTERIS TERKUAT

BLASTERIS TERKUAT

"Sialan, apakah ini istana atau apa?" “Karpet yang terbuat dari kulit Serigala Salju Ekor Sembilan Level Sembilan. Bantal sofa sepertinya juga terbuat dari sutra Ulat Mata Nirwana level Kesembilan. Dan lampu gantung itu... Krisna, berapa banyak yang kamu keluarkan untuk kapal ini?” "Aku tidak membeli ini, ini hadiah dari Kamp Elite."
1065.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.0K kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Aku Tak Bodoh

Aku Tak Bodoh

Untung saja karpet bulu yang ku punyai ada dua buah. Arimbi datang dan ikut membantu memasangkan alas seprai pada karpet, agar kenyamanannya sedikit bertambah. Ia berujar tak ingin pulang ke rumah malam ini. Ia memilih menginap lagi. Alasannya klasik, mau menagih janji cerita, antara diriku dengan Oppa gangnam style. Hadeh. Benar, kan? Nambah beban mulut. Hhh.
9.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 247 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
AMALIA, Kesetiaanku Diragukan

AMALIA, Kesetiaanku Diragukan

"Siapa yang belikan karpet ini, Kak?" “Mas Kanzulah, waktu dianya ke Turki dua tahun lalu." cerita Wafa sambil menyiapkan tempat tidur. Satria membantu mendudukkan istrinya di tepi ranjang. Kamarnya dua kali lebih luas, tapi suasana di sini terasa hangat dan akrab. “Terasa sempit ya, Ya ?” tanya, Kanaya juga punya sudut baca. Dia bilang wajib baca buku setengah jam sebelum tidur.”
105.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan

Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan

Langkah kaki Amira terhenti kaku tepat di atas karpet beludru Persia yang tebal. Bau apak tanah dan karat besi yang mengendap di pakaian kotornya seketika tersapu bersih, dijajah secara mutlak oleh aroma wangi dupa gaharu yang mewah, pekat, dan maskulin yang memenuhi seluruh penjuru ruangan agung ini.
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
KEBANGKITAN PEDANG PENELAN JIWA

KEBANGKITAN PEDANG PENELAN JIWA

"Dengan menunggang kuda, setidaknya membutuhkan satu hari untuk mencapai Black Jade Mountain. Ketika kita sampai, reruntuhan Black Jade Ruins mungkin sudah lama terbuka." Sambil berbicara, Antalo Reiszaro membuat gerakan dengan tangannya. Sebuah cahaya keluar dari lengan bajunya, lalu mendarat di tanah dan berubah menjadi sebuah karpet berwarna cokelat. Karpet itu memiliki panjang sekitar tiga meter dan lebar dua meter. Permukaannya dipenuhi rune misterius, sementara beberapa ukiran berbentuk lingkaran terdapat di tepinya.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
AETHERITH: Perang Planet Astarhea

AETHERITH: Perang Planet Astarhea

Interior kabin ini adalah definisi kemewahan kekaisaran yang berlebihan: lantai dilapisi karpet beludru merah delima yang tebal dan empuk, kursi dari kayu cedar wangi dengan bantalan sutra emas yang menopang tubuh dengan sempurna. ​Di tengah keheningan yang sangat mahal itu, sebuah kompartemen tersembunyi di dinding kayu cedar terbuka secara otomatis, menyuguhkan nampan perak berisi lima keping biskuit berbentuk burung Phoenix yang berkilau karena taburan serbuk emas asli. ​Zi-Hao menatap biskuit itu dengan penuh curiga, seolah-olah itu adalah perangkat peledak. "Ini... apa?"
10757 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Atas Nama Pohon Suci

Atas Nama Pohon Suci

"Itu karpet yang mahal, jangan ternoda di atasnya." Aku lalu melirik ke lantai. Disana terhampar permadani Persia berwarna merah marun dengan motif yang rumit. Aku mengalihkan pandanganku ke arah pengurus rumah tangga yang sedang membersihkan beberapa minuman yang tumpah. Saya bisa merasakan ketakutan yang luar biasa darinya. "Kalian penduduk asli selalu tidak kompeten di tempat kerja," Lestari marah, berjalan ke arah pelayan.
105.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 141 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status