Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pergi Jadi TKW Pulang Jadi Sultanah

Pergi Jadi TKW Pulang Jadi Sultanah

Oh andai di rumahku nanti memiliki karpet seindah ini. Lalu terbayang aku bermain bersama anakku, mendongeng sambil tiduran. Atau bercengkrama bersama Ibu dan Lina juga Mas Agi, ah pasti menyenangkan sekali. “Ehem-ehem … ada yang ngelamun, nih!” Aku terperanjat sementara Ayu cekikikan dengan jarak sejengkal di depan mukaku. “Karpet-karpet itu sudah tidak terpakai. Kalau kalian mau boleh diambil,” Madam Hindun menunjuk karpet-karpet yang tadi digulung. Aku bengong, ini maksudnya apa?
1027.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 540 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar

Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar

Whiteller sambil menunjuk dua pilihan karpet di depannya—satu abu-abu lembut dengan tekstur minimalis, dan satu lagi berwarna krem dengan pola klasik. Emily menatap kedua karpet itu dengan cermat. Ia berjalan mendekat, menyentuh bahan dari masing-masing karpet, mencoba membayangkannya dalam sebuah ruangan. "Menurut saya, yang abu-abu memiliki kesan modern dan netral. Cocok jika Anda ingin menjaga ruangan terlihat bersih dan minimalis. Tapi, yang krem memberikan kesan lebih hangat dan nyaman. Tergantung suasana apa yang ingin Anda ciptakan, Tuan."
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
TWIN PRINCE: Siapa Pangeran Gadungan Ini?

TWIN PRINCE: Siapa Pangeran Gadungan Ini?

Berbeda dengan anak lusuh di sana, yang bahkan kebingungan dengan jati dirinya sendiri saat ini. Yuno memperhatikan sekeliling ruangan. Sebuah karpet raksasa yang memanjang di tengah ruangan, ini jelas bukan dibuat dari bulu-bulu murahan, serta harga upah menjahitnya saja mungkin setara penghasilan ayahnya selama lima tahun. Lalu tiga buah singgasana yang berderetan di depan matanya, benar-benar tahta yang terlihat sangat nyaman untuk di duduki. Dari depan sana seseorang pasti bisa melihat jelas betapa banyak orang yang tunduk di hadapannya.
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
ISTRI 365 HARI

ISTRI 365 HARI

Berjejer rapi di dalamnya berbagai macam baju, sepatu dan tas dari merek-merek mahal yang dulu hanya bisa Kara lihat di etalase. Kara menghempaskan dirinya di atas tempat tidur yang empuk, berusaha melihat sisi baik dari apa yang sedang ia jalani saat ini. Perjalanan panjang dari Italia membuat Kara sangat lelah, sehingga beberapa menit kemudian Kara tertidur pulas di atas kasur empuk yang harganya puluhan kali lipat dari harga kasur yang biasa ia gunakan. *****
1015.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 385 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Jangan Sentuh Saya, Dokter!

Jangan Sentuh Saya, Dokter!

Dia melangkah perlahan sambil bersiul senang. Interior di ruangannya tak kalah mewah dengan halamannya. Satu set kursi kayu dengan ukiran khas Jepara menyambutnya di ruang tamu. Lantainya dilapisi karpet beludru tebal berwarna senada dengan marmernya. Di sebelah kanan terdapat lemari kaca besar berwarna emas, berisi pajangan kecil-kecil. Beberapa lukisan serta guci-guci antik menghiasi dinding dan sudut-sudut ruang tamu. Menambah kesan mahal ruangan itu.
1029.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Perangkap Kencan Buta CEO

Perangkap Kencan Buta CEO

Toko-toko penjual karpet dan kain wool halus berjajar di jalanan yang mereka lewati, bersebelahan dengan kedai kopi Turki, toko kerajinan tanah liat, dan restoran makanan khas Turki. Semuanya begitu menarik untuk dikunjungi, sayangnya waktunya terbatas hari ini. Mereka tiba lewat tengah hari jadi harus mengejar waktu untuk naik balon udara terlebih dahulu. "Sepertinya pilihan terbaiknya kita naik short trip 45 menit saja dulu, bagaimana?" usul Jonas yang segera disetujui oleh rekan-rekannya.
1039.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai karpet jaman dulu
Tampilkan Ulasan (28)
Baca
+Pustaka
agneslovely2014
Hai para pembaca setia kisah Jonas dan Audrey, buku ini mengikuti event Ngabuburead Penulis Good Novel Berbagi. Ada koin baca yang akan dibagikan gratis bagi 3 pembaca teraktif mengikuti cerita tiap bab hingga tamat dan komentar yang paling banyak. Kepoin reels dan info buku ini di FB Agnes Amelia
wieanton
Hei peka jg feeling kamu Bella, tiba2 bicara ke Audrey " apa kamu yg bercinta dgn suami ku" ..gk perhatian ke jonas tp Isabella bs tepat sasaran ... tentu saja Audrey menyangkal sbb mmng gk tau yg boking kencan itu Jonas. Deal, sepakat tuh bercerai lbh baik begitu kan biar gk panas melulu tiap ketemu
Baca Semua Ulasan
Pesona Istri Desa sang Bupati

Pesona Istri Desa sang Bupati

"Pertemuan keluarga?" Meski tak mengerti, Sera mengikuti Mbok dan beberapa pelayan yang menemaninya menuju kamar. Sebuah kamar yang sebelumnya dia gunakan sebelum menikah. Namun, kedua matanya melotot saat menatap kebaya berwarna biru dan jarit bermotif batik Parang Kusumo. "Mbok, ini batik yang digunakan untuk para raja zaman dulu. Mana bisa aku menggunakannya?" ucap Sera dengan mengernyit. Dia mendekati jarit itu dan menyentuhnya dengan gemetar.
104.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 175 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Anak Rahasia Sang Alpha

Anak Rahasia Sang Alpha

Setiap langkahku memantulkan bayangan kami dengan begitu jelas. Semua perabot yang kulihat memancarkan keanggunan yang tidak main-main. Sofa-sofa besar berlapis kain sutra dan beludru premium berwarna gading tersusun mengelilingi meja marmer hitam yang dihiasi vas kristal berisi bunga segar. Karpet bermotif elegan membentang di bawahnya, begitu lembut hingga langkah kakiku nyaris tak menimbulkan suara. Aku mendongak perlahan.
106.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 211 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Menjadi Tawanan Tuan Muda

Menjadi Tawanan Tuan Muda

Atau di gudang? Enggan memicu perdebatan panjang yang melelahkan, Lila mengalihkan pandangannya dari sofa. Ia melihat ke arah lantai yang dilapisi oleh karpet bulu tebal bermotif geometris. Jemari kakinya meraba tekstur karpet tersebut, mencoba menakar kenyamanannya. “Yah, tidak terlalu buruk. Setidaknya karpet ini lumayan empuk,” gumam Lila dengan nada pasrah yang dipaksakan. Ia bersiap untuk menurunkan tubuhnya ke lantai. “Baik—”
1016.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 349 kali sebagai karpet jaman dulu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status