Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda
Tanpa sadar kakinya berhenti tepat di ambang pintu, seolah ada garis tak kasat mata yang menahan langkahnya untuk masuk lebih jauh.
Matanya menyapu ruangan—jika itu bisa disebut ruangan. Dinding polos tanpa cat yang rapi, lantai semen yang tidak dilapisi keramik, satu jendela kecil dengan tirai kumal, dan di sudut paling ujung... sebuah kasur. Hanya kasur.
Tanpa sprei yang layak, tanpa guling, hanya satu bantal pipih dan selimut tipis yang sudah mulai lusuh.