Hati yang Terbagi
"Tante suka dengan penampilanmu yang sekarang, Sayang. Kamu pantas memakainya. Hatimu bersih tidak seperti Raisa. Dia itu hanya iblis berpakaian malaikat."
Aku menggenggam tangan Tante Irma.
"Sabar Tante, ada masanya kebenaran akan terungkap. Saat ini kita bantu do'a, agar Mama tak kenapa-kenapa."
Obrolan kami terhenti, karena Tante Irma harus segera pergi. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaan. Restoran yang kian ramai membuatku makin bersemangat berperan sebagai pelayan. Itung-itung belajar bekerja keras.