Ketika Takdir Menyapa
“Semesta itu lucu ya, Mbah, dulu orang-orang itu nginjek-injek kita. Sekarang, kok ya balik kena sendiri.”
“Namanya hidup, Nduk.” Mbah Imah tersenyum tipis, penuh makna. “Apa yang ditanam, itu yang dituai. Cepat atau lambat, Allah balas dengan caraNya sendiri.”
Gayatri menepuk punggung tangan Saras, lembut tapi tegas.
“Makanya, Ibu selalu bilang, biarin saja orang jahat berbuat sesukanya. Balasannya nggak perlu dari kita.”
Hot Chapters