Ada momen ketika aku duduk di teras rumah, menyesap kopi, dan memandang langit yang berubah warna. Filosofi 'hidup itu pilihan atau takdir' selalu menggelitik pikiran. Di satu sisi, kita seperti punya kendali penuh: memilih jurusan kuliah, pekerjaan, atau bahkan pasangan hidup. Tapi di sisi lain, ada hal-hal di luar kuasa kita—kelahiran, bencana alam, atau pertemuan tak terduga yang mengubah segalanya. Novel 'The Alchemist' bilang tentang 'tanda-tanda alam semesta', tapi apakah itu takdir atau sekadar peluang yang kita tangkap?
Aku cenderung percaya bahwa hidup adalah tarian antara keduanya. Kita memilih langkah, tapi lantainya sudah ada. Misalnya, aku tidak memilih dilahirkan di keluarga seni, tapi aku bisa memilih untuk menolak atau merangkul dunia kreatif itu. Yang menarik, semakin dewasa, aku sadar bahwa 'takdir' sering kali adalah serangkaian pilihan kecil yang kita buat tanpa sadar bertahun-tahun sebelumnya.