Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Sang Penjaga Pajajaran

Sang Penjaga Pajajaran

“Tidak mungkin, Tuan. Sinyal itu tidak berasal dari satu tempat… tapi dari hati manusia sendiri.” Langit di atas bumi berpendar lembut, seperti lampu yang bernafas. Dan di tengah malam, dunia sekali lagi berbisik: “Rasa teu bisa dipasrahkeun ka mesin. Rasa kudu hirup dina manusa.” (Rasa tidak bisa diserahkan pada mesin. Rasa harus hidup di dalam manusia.) Sementara itu Arjuna tampak sedang menatap cakrawala yang dipenuhi cahaya digital seraya berkata pelan: “Fitnah tidak bisa membunuh kebenaran. Ia hanya menundanya.”
101.5K viewsOngoingAdded to Library 36 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Saat Cinta Menyapa Lagi

Saat Cinta Menyapa Lagi

Nara menyentuh jantung The High Reviewer dengan penanya, menyuntikkan satu tetes 'Empati Murni' ke dalamnya. Seketika, kacamata tebal sang kritikus pecah. Ia melihat Nuranipura bukan sebagai sekumpulan trofi dan klise, melainkan sebagai sebuah karya cinta yang luar biasa. Ia melihat air mata manusia yang terselamatkan oleh cerita ini. Ia melihat harapan yang tumbuh di tengah keputusasaan. "Aku... aku minta maaf," bisik The High Reviewer. "Aku terlalu lama berada di menara gadingku hingga lupa bahwa cerita adalah nafas bagi jiwa."
855 viewsOngoingAdded to Library 31 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

Di langit setiap dimensi yang ia pimpin, muncul sebuah retakan vertikal besar yang menyerupai mata yang sedang menyipit. Inilah kedatangan The Critic (Sang Kritikus)—entitas purba yang bertugas menilai kualitas sebuah realitas. Baginya, sebuah alam semesta bukan dinilai dari kebahagiaan rakyatnya, melainkan dari konsistensi logis dan estetika narasinya. Dan bagi Sang Kritikus, keberadaan Surya yang mampu menulis ulang takdir adalah "eror plot" yang harus segera dieliminasi.
805 viewsOngoingAdded to Library 20 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Jatah Bulanan Ibu Mertuaku

Jatah Bulanan Ibu Mertuaku

ucapku pasrah. "Jangan terlalu dingin, Mbak Sekar, bagaimana pun suamimu itu laki-laki," ucap Mbak Murni memperingatkanku. "Tuhan nggak mungkin ngasih cobaan melebihi batas kemampuanku, ngadepin mertua kaya gini aja mentalku hampir kocar kacir, nyawa hampir melayang, gimana kalo ditambah pelakor? Alloh nggak sekejam itu," jawabku asal.
75.0K viewsCompletedAdded to Library 190 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Brave Heart

Brave Heart

Om mantan mafia ini kalau berbicara memang tidak ada filternya. "Kamu Nuri. Yang kuasa bukan hanya menganugerahkan kamu mata. Tapi juga hati. Artinya saat mata kamu hanya menatap Guruh seorang saja, gunakan hatimu saat menilai sikap orang lain. Orang satu Indonesia Raya saja tau perasaan Xander padamu, masa kamu tidak? Pergunakan panca indera yang diberikan gratis oleh Yang Maha Kuasa padamu, dengan sebaik-baiknya." Nuri mengangguk. Ia merasa sangat bersalah karena ketidakpekaannya. "Kamu Anton, saat inilah kamu akan diuji sebesar-besarnya ujian. Kamu ingatkan kalau papamu baru saja keluar dari rumah sakit karena masalah Grace?"
1038.6K viewsCompletedAdded to Library 1.3K Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Perjanjian Terlarang

Perjanjian Terlarang

“Ibumu hamil. Tapi dia tidak pernah meminta apa pun. Tidak seperti kau yang seperti orang ngidam.” Seharusnya ini segera dimengerti. Abihirt tidak bodoh. Moreau harus selalu menggarisbawahi kenyataan tersebut. Pemikiran kritis pria itu akan selalu dapat menembus benteng tinggi. Namun, tidak dengan pengakuan jujur. Dia belum siap dan sepertinya tidak akan pernah siap.
1031.7K viewsOngoingAdded to Library 1.0K Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
THE SON OF DESTINY

THE SON OF DESTINY

“Aku telah mengatakannya tadi; kau harus mengatakan semua yang kaupikirkan dengan sejujur-jujurnya, walaupun itu bukan hal yang baik.” “Anu... menurut saya memang begitulah dunia ini sebenarnya. Tidak ada cinta yang tulus dan murni. Semua orang hanya berpura-pura baik, untuk mendapatkan hal yang tidak baik.” “Sekarang, lihat kristal di sana.”
8.820.6K viewsCompletedAdded to Library 617 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

tanya Bu Nadira. “Takut suaraku... kehilangan bentuknya. Takut setelah naik podium, ‘Ruang Bicara’ jadi kurikulum kosong.” Bu Nadira menyesap kopinya. Lalu menatap tajam. “Tapi Nara, apa kamu kira diam di pinggir akan membuat idemu tetap murni? Murni bukan berarti tidak berubah. Murni berarti kamu tahu kapan kamu berubah, dan kenapa.”
101.8K viewsCompletedAdded to Library 46 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Selubung Memori

Selubung Memori

“Mustahil aku tidak ragu. Tapi itu perlu.” “Kau sudah terbiasa, ya,” ujarku, entah mengapa. “Aku tahu darah murni tidak semestinya membunuh manusia,” ujar Dalton. “Katanya keinginan membunuh bisa dianggap sebagai salah satu objek yang perlu ditingkatkan oleh darah murni—mengingat darah murni sejak lahir didesain untuk pertempuran. Dorongan membunuh selalu dekat dengan pertempuran. Darah murni pasti takkan asing. Tapi, yah, pada dasarnya larangan membunuh itu berlaku untuk semua manusia. Tapi ini perang, jadi tidak ada pilihan lain.”
1019.1K viewsOngoingAdded to Library 553 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
Resep Rahasia Sang Pecundang

Resep Rahasia Sang Pecundang

Kesombongannya, hubris-nya, telah membakar jembatan terakhirnya dan kini menjerumuskannya ke dalam jurang ini. “Luna… dia benar soal kamu,” gumam Radit, lebih pada dirinya sendiri. “Ah, si nona kritikus itu,” cibir Ki Gendeng. “Tentu saja dia benar. Orang-orang sinis sepertinya selalu benar tentang sifat dasar manusia. Tapi apa yang bisa dia tawarkan padamu? Nasihat? Dukungan moral? Aku menawarkanmu keutuhan, dan kau hampir mengambilnya. Sayang sekali, kesombonganmu membuatmu berpikir kau bisa menjadi rekan, bukan alat.”
970 viewsCompletedAdded to Library 38 Times as kritik atas nalar murni
Read
+Library
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status