Pelatih Renang Idaman Para Sosialita
Tas kulempar ke kasur, lalu mulai membereskan seadanya, menumpuk baju kotor di pojok, mengangkat gelas kotor ke bak cuci piring, lalu masuk ke kamar mandi.
Air dingin mengalir deras, membasuh sisa keringat dan penat. Setelah selesai, aku keluar dengan handuk menyelempang di pundak, rambut masih basah.
Pandangan jatuh ke kulkas kecil di sudut ruangan. Kubuka, hanya ada sebotol air mineral setengah, sepotong tomat layu, dan satu botol saus sambal.
“Nggak ada yang bisa dimasak.”
Hot Chapters