Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Dia tahu aku butuh ketenangan, bukan interogasi.
Tangan besarnya terulur, mengusap punggungku yang bergetar. Usapannya panjang dan menenangkan, dari bahu hingga ke pinggang.
"Sstt... cuma mimpi. Kamu aman di sini," bisiknya. Suaranya rendah, bergetar di dada, menembus kabut panik di kepalaku.
Tapi rasa takut itu enggan pergi. Bayangan Ayah yang meninggalkanku sendirian di tengah api terasa begitu nyata. Aku butuh pegangan. Aku butuh jangkar agar tidak hanyut dalam kegelapan.