AKAN KUTUNGGU
Terbayang jelas paras anggun wanita yang amat dicintainya, sosok yang tega meninggalkannya tanpa alasan yang masuk akal.
Bu Juliana menyentuh lembut lengan putranya. "Obati patah hatimu dengan jatuh cinta lagi, Khai. Hadirkan orang baru, maka lukamu perlahan akan sembuh dengan sendirinya. Amara itu gadis yang sangat baik, berpendidikan tinggi, dan dia anak rekan bisnis kita. Kalian pun sudah kenal sejak kecil, kan. Kamu bisa mempertimbangkannya. Life must go on, Khaisar."
Tanpa menunggu jawaban Khai yang membeku bagai patung es, Bu Juliana berdiri lalu melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mahalnya yang samar di udara malam.