Pernikahan tanpa Bahagia
Sejak hari itu, setiap kali Yudha memotret langit, seolah ada sesuatu dari dirinya yang ikut terabadikan di sana — halus, tak terlihat, tapi nyata.
Di sisi mejanya, sebuah buku tergeletak terbuka.
Sampulnya sederhana: Langit yang Tak Menunggu — dengan nama Rani Kencana tertera di bawahnya.
Ia membelinya diam-diam lewat situs daring, dua hari setelah terbit.
Sejak saat itu, Yudha tak pernah benar-benar berani membacanya dari awal hingga akhir.
Ia membaca perlahan, beberapa halaman setiap malam, seperti seseorang yang meneguk obat pahit tapi tahu di dalamnya ada kesembuhan.
Bab Populer