Ada sesuatu yang tragis sekaligus memikat dari cara Laksmi Pamuntjak merajut kisah 'Kupu-Kupu Malam'. Novel ini bercerita tentang Surti, seorang perempuan yang terpaksa menjadi pekerja seks demi menghidupi keluarganya, tapi justru menemukan kekuatan dalam kerentanannya. Narasinya berlapis-lapis—di satu sisi kita diajak menyelami dunia gelap prostitusi Jakarta dengan segala kekerasan sistemiknya, tapi di sisi lain ada cahaya humanisme yang menyentuh ketika Surti membangun hubungan khusus dengan kliennya, seorang lelaki setengah buta bernama Bir.
Yang membuat novel ini istimewa adalah bagaimana Pamuntjak menolak menyajikan stereotip. Surti bukan korban pasif, melainkan sosok kompleks yang terus bertarung antara rasa malu dan harga diri. Adegan ketika dia memutuskan membeli buku puisi bekas di trotoar, misalnya, menunjukkan kerinduan akan normalitas yang mengharukan. Plotnya sendiri bergerak seperti mimpi buruk yang indah—penuh metafora kupu-kupu sebagai simbol transformasi pahit. Aku pribadi sering tercekat oleh deskripsi sensual Pamuntjak tentang tubuh yang terluka namun tetap bersinar seperti 'kupu-kupu yang terbang di kegelapan'.