Kebangkitan Sang Putri Terbuang
“Putri Lin Yue, kami hanya bercanda—”
“Saudaraku?” Lin Yue memotong, langkahnya terhenti. “Jangan kotori kata itu. Aku hanya melihat lintah yang bersembunyi di balik sutra yang tak pantas.”
Aula itu sunyi. Setiap kata Lin Yue terasa seperti tamparan. Ia mendekat, aroma cendana dan bahaya menguar dari dirinya.
“Kalian menyebutnya gila,” bisiknya, matanya mengunci Lin Liang. “Aku melihat kalian, 'waras' yang mabuk kekuasaan, dan bertanya, siapa yang sebenarnya sakit?”