Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Dia melihatku berdiri di atas sana, di lantai dua, menatap ke bawah seperti ratu yang baru saja memenangkan perang takhta.
Aku menunggu tatapan benci. Aku menunggu tatapan marah yang berapi-api seperti biasanya.
Tapi tidak.
Tatapan Luna berubah.
Matanya... matanya kosong.
Hitam. Gelap. Tanpa cahaya. Seperti mata boneka rusak yang sudah dibuang ke tempat sampah.
Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi emosi.
Hanya ada kehampaan dari seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Seseorang yang sudah tidak punya rumah, tidak punya ayah, tidak punya uang, dan tidak punya harga diri.