Tiga Mayat Satu Takdir
kata Kael, menyeka darah dari pedangnya, matanya menyipit ke kegelapan.
Perjalanan berlanjut, lorong-lorong makin sempit, udara makin berat oleh bau busuk monster. Mereka melewati genangan air keruh, stalaktit yang tiba-tiba runtuh—hampir menimpa Laila, tapi Murphy menariknya tepat waktu. “Hati-hati, Laila! Tempat ini pengen bunuh kita sebelum monster!” katanya, nadanya setengah bercanda. Laila mengangguk pelan, memeluk Molly erat, tapi matanya penuh tekad.
Bab Populer