Senja Yang Di Hadirkan
Dalam hitungan menit, kepalanya sudah bersandar di sandaran kursi, terlelap dengan napas yang pelan dan tenang.
Pagi datang perlahan, membawa sinar lembut yang menembus tirai putih ruangan. Suara azan subuh terdengar dari masjid kecil di ujung jalan, membangunkan Senja dari tidurnya. Ia mengucek mata, melihat Sagara yang tertidur di sofa panjang dengan posisi miring, sementara Bu Arisa tampak lebih tenang dengan napas yang teratur, meski wajahnya terlihat masih pucat.
Senja bangkit perlahan, lalu keluar mencari musala rumah sakit. Udara pagi menusuk kulit, tapi langkahnya mantap. Di sana, ia menunaikan salat, lalu menengadahkan tangan.
Sikat na Kabanata