Luka di Ujung Senja
Ia tidak lagi mengukur hari dari seberapa banyak yang ia selesaikan, melainkan dari seberapa utuh ia hadir di dalamnya.
Suatu pagi, Anggi terbangun lebih awal dari biasanya. Rumah masih sunyi. Rendra dan Rafa masih terlelap. Ia duduk di dapur, menyalakan lampu kecil, menyeduh teh tanpa terburu-buru. Uap hangat naik perlahan, mengaburkan pandangan. Untuk sesaat, ia hanya duduk, mendengarkan detak jam dan napasnya sendiri.
Dulu, pagi seperti ini akan membuatnya gelisah—terlalu sepi, terlalu banyak ruang untuk pikiran berkelana. Kini, sepi justru terasa seperti teman.