Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu
Dia mengulas senyum yang lebih buruk daripada tangis dan berkata, "Aku nggak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin lebih lama bersamamu."
Yang dia terima hanyalah tatapan dinginku. Aku tidak menyetujui tawarannya. Dia kembali maju dan sempat menarik tanganku, lalu segera melepaskannya. Wajahnya tampak muram, seolah baru saja dijatuhi hukuman mati, lalu dia berkata dengan nada putus asa.