Air Mata Aruna
ujar Lukman dengan wajah yang terlihat bahagia.
“Syukurlah mama senang dengarnya, tak putus-putusnya kami berdoa untuk kalian berdua. Hanya kalian yang kami punya,” ujar mamanya dengan logat melayu yang masih kental saat berbicara.
Setelah itu, mereka melanjutkan pembicaraan tentang handai-taulan di kampung, tentang perkembangan naik-turunnya harga emas, dan membahas berita yang ada di televisi. Hingga malam kian beranjak, dan rasa kantuk pada mata mereka pun kian bergelayut. Lalu mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.