PELAN PELAN SAYANG
Senyumnya sinis, dingin, dan penuh tantangan, seakan permainan baru saja dimulai.
“Terserah, Mas... apain aja terserah. Yang penting...” Gendis terdiam sejenak, menahan napas. Ia tersenyum tipis, lalu memberi ciuman jarak jauh ke layar. “Semangat kerja ya, Sayang.”
“Oke. I love you,” ucap Rain dengan nada berat, setiap katanya seperti janji tak tergoyahkan.
“I love you, Sayang...” balas Gendis lirih, suaranya bergetar tapi penuh keyakinan, seolah ingin menggantungkan seluruh hidupnya hanya pada lelaki itu.
Hot Chapters