Suatu Senja di Tanah Senja
Dia bukan hanya teman tapi juga musuh abadiku.
“Aku tertatih-tatih mencoba kembali berdiri. Kakiku terasa amat nyeri. Aku tidak boleh menyerah setelah sejauh ini atau semua yang kulakukan sia-sia. Aku harus mencapai ketinggian itu bagaimanapun caranya. Kemudian aku ingat aku memiliki sepayang sayap. Aku bahagia dengan harapan baru. Kurentangkan sayapku, putih, besar, kuat. Dengan sayap ini aku akan terbang mencapai ketinggian di atasku. Namun, ketika aku bersiap untuk melesat, sebuah suara—mungkin perempuan—berkata, ‘Kau tak akan sampai di puncak ketinggian itu dengan sayapmu.’ Aku tak menghiraukannya. Aku mengambil ancang-ancang dan melesat. Ini tidak begitu sulit. Aku telah hampir sampai
Hot Chapters