Cinta Tapi Gengsi
Sementara itu, Lovrin lebih sibuk dengan komentar-komentar jahilnya.
“Lihat lukisan ini, Kin,” ucap Lovrin, menunjuk sebuah karya abstrak berwarna cerah. “Menurutku ini menggambarkan kekacauan isi otakmu waktu pagi hari.”
Kinora mendelik, meski pipinya memerah karena menahan tawa. “Lovrin, tolong serius sedikit. Ini seni, bukan bahan candaan.”
Tapi Lovrin hanya mengangkat bahu. “Aku serius! Seni itu soal interpretasi, kan? Nah, interpretasiku seperti itu.”
Hot Chapters