BUKAN MENANTU KAYA
“Maaf Mah, nggak bisa. Hanna mau siap-siap.“ Aku menolaknya dengan lembut.
Aku dan Mas Hasan memang sudah berencana pulang hari ini. Aku bekerja sebagai pengajar TPA dan Mas Hasan jadi penanggung jawab masjid, lebih tepatnya marbot di Yayasan pendidikan Islam di kota Bogor. Kami sudah terlalu lama izin. Malu jika harus izin lagi.
“Mau siap-siap kemana?“ bentaknya. Aku beringsut mundur.
“Mau pulang ke Bogor, Mah.“
Mamah melipat tangan di dada, menatapku dengan tatapan meremehkan.
“Bagus ya! Mau lepas tanggung jawab ya, kamu?“ teriaknya. Semua yang ada di ruangan sontak menatapku. Hadi, Haikal, Ningrum, Rika, Nuri, Ikmal dan ... Yanti. Juga Bapak mertua yang duduk di sofa sudut.
Hot Chapters