Suami yang dijual itu ternyata Dewa Perang
jawabnya, menatap bayangan itu dengan mata menyala.
Bayangan itu tiba-tiba bergerak cepat ke arah jendela, namun berhenti di ambang pintu ruang makan. Indra mengejar, tetap menjaga jarak, matanya mengikuti setiap gerakan bayangan itu. Dina menyusul di belakang, jantungnya terasa seperti hendak meledak. “Apa yang diinginkan?” bisik Indra, hampir berseru. Bayangan itu tertawa lagi, kali ini lebih keras, seakan menantang keberanian mereka. “Kau tak akan mengerti… malam ini hanya awal,” suara itu menggema, membuat kaca jendela bergetar ringan. Dina merasakan hawa dingin merayap di kulitnya, tapi Indra tetap menahan tangannya di bahunya, memberikan sinyal ketenangan.
Hot Chapters