Cinta dalam Bayangan Hutang
Adrian terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Itu bukan hal yang aneh, Ara. Kadang kita terlalu sibuk dengan pertempuran harian sehingga lupa bahwa kita juga punya hak untuk bermimpi."
Ara menoleh padanya, matanya berbinar lembut. "Jadi, apa mimpi terbesarmu, Adrian?"
Adrian tertawa kecil, seperti mencoba meredakan suasana hati yang tiba-tiba menjadi serius. "Aku tidak pernah benar-benar memikirkan itu sampai beberapa waktu terakhir."
"Apa yang berubah?" tanya Ara, nadanya ingin tahu.
Adrian menatap Ara, bibirnya melengkung menjadi senyum tipis. "Mungkin karena aku bertemu seseorang yang membuatku berpikir tentang apa yang sebenarnya aku inginkan."
Chapitres populaires