Menuju Matahari
“Lucu ya. Ada orang berkelahi tanpa ada tujuan apa-apa. Harusnya kan gara-gara rebutan apa gitu, atau nyawa terancam, atau debat kusir lalu naik darah dan tabok-tabokan.”
Wisnumurti mendecak. “Itu kan kamu. Kalau marah, tabok-tabokan, lalu jambak-jambakan.”
Pratiwi tertawa.
Mereka kembali asyik menonton. Ki Randu Alas masih sibuk bertarung melawan temannya itu, yang tadi mengaku bernama Gagak Panolih dari lereng Merbabu. Tadi mereka bertiga sedang membelok meninggalkan alur jalan utama menuju Paranggelung ke jalan setapak mendaki ke Padepokan Gunung Walang. Tahu-tahu ada bayangan serba hitam menyerang hebat persis ke arah Ki Randu Alas.