Mas Bram, Besok Kita Bercerai
"Simbol institusi? Bukannya itu cuma kain pel buat kamu selingkuh? Lagian, aku cuma nyuciin kok. Kan, Lina minta bajunya bersih, ya udah aku bersihin sebersih-bersihnya dari dosa kalian."
"Mas! Denger, kan, mulutnya?!" Lina menghentak-hentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil tantrum. Dia memeluk lengan Bram erat. "Udah cukup, Mas. Aku nggak mau tau pokoknya hari ini juga kamu urus surat cerai ke pengadilan! Usir dia! Biarin dia jadi gelandangan! Aku takut tidur serumah sama psikopat!"
Bram memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Dia menatap Lina dengan pandangan frustrasi.