Misteri Rumah Mewah di Perkebunan Sawit
“Baik, Pak Hamdan, terima kasih banyak atas kepercayaannya. Nanti malam saya kirim laporannya seperti biasa, Pak.”
“Siap Mas Halid, kapan-kapan kalau pulang ke kota, kabari saya ya, saya mau nitip oleh-oleh untuk Pak Darma.”
“Baik, Pak.”
Setelah takada lagi yang ingin kusampaikan, aku pun mematikan sambungan telepon. Kemudian menyelesaikan pembayaran yang tadi sempat tertunda karena harus menghubungi Pak Hamdan terlebih dahulu.
Satu mobil pick up berisi pupuk, fiber dan juga perlengkapan lainnya sudah meluncur ke perkebunan. Sementara aku mengikutinya dari belakang.