Di Balik Senyum Istri
Aku memang tersenyum, tapi senyumku tak semanis dulu, mirip seperti buah belimbing wuluh yang masih muda masam dan kecut, meninggalkan jejak pahit di sana.
“Kamu tak pantas menerima senyumku lagi, pergi!” ucapku pelan, takut membangunkan Bang Andre. Dia malah bereaksi memeluk tubuhku, karena belum siap aku jadi tak punya pertahanan. Tubuhku sampai menghantam daun pintu cukup keras, aku tak peduli meski punggungku sakit aku terus memberontak.
Pelukannya malah kian mengerat, ketakutan makin menjalar, bagaimana kalau perbuatannya padaku sampai dilihat orang lain, bukan tak mungkin hal ini akan menjadi fitnah besar.