Reinkarnasi Dewa Perang
“Aku tidak memilih menyerah. Aku memilih bertahan, Jiwangga. Ketika mereka memburuku, aku menyisihkan hampir seluruh kekuatanku hanya untuk tetap hidup. Aku menyadari sesuatu, menghancurkan alam surgawi bukanlah langkah yang bisa diambil sembarangan, itu akan membangkikan bencana pada ratusan titik, merepotkan roda semesta. Jadi, di usia tua, aku menenggelamkan ambisi itu. Aku hanya ingin hidup sisa hari dengan tenang, merasakan angin, bukan lagi peperangan.”
Angkara memandang gulungan kulit tua yang masih tergeletak di meja. Manuskrip itu kini terasa seperti batu bara yang menyala di tangannya, melukai jika disentuh, namun memikat jika dinikmati. “Kau pernah bilang manuskrip itu mengungkap
Hot Chapters