Ada sesuatu yang magis tentang cara Nusantara dihadirkan dalam karya fiksi. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan mendengar cerita rakyat dari berbagai pulau, aku selalu terpikat oleh bagaimana budaya kita diangkat dalam medium visual dan tulisan. Di film seperti 'Laskar Pelangi', kita melihat potret kehidupan sehari-hari yang jujur dengan latar alam yang memukau, sementara novel 'Pulang' karya Leila S. Chudori menggabungkan sejarah kelam dengan lanskap urban Jakarta yang chaotic. Yang menarik, keduanya sama-sama menangkap semangat ketahanan masyarakat kita meski dengan pendekatan berbeda.
Di sisi lain, representasi Nusantara dalam karya internasional sering kali terjebak dalam exoticism. 'Eat Pray Love' yang menyoroti Bali, misalnya, cenderung mengaburkan kompleksitas budaya lokal demi memenuhi fantasi turis. Tapi akhir-akhir ini, sutradara muda seperti Joko Anwar mulai mengubah narasi ini dengan film seperti 'Satan's Slaves' yang memadukan horor dengan folklore Indonesia tanpa terjebak klise.