Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
DIJODOHKAN MAMA

DIJODOHKAN MAMA

“Kayaknya jamu racikan Kakek Yudistira. Katanya bagus buat ‘menyuburkan aura ibu hamil’.” “Aura?” Ziva memutar bola matanya. “Yang aku butuh itu nutrisi, bukan aura.” Reza terkekeh sambil mengambil satu toples kecil bertuliskan ‘Herbal Tenang Jiwa – buatan Mamah Lia’. “Oh ini juga ada labelnya, lho. Lihat, jamu penenang alami. Katanya diminum kalau Ziva mulai ngidam aneh-aneh.” “Ngidam aneh-aneh gimana? Aku belum minta mangga jam 2 pagi kok.”
102.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Mata Ketiga

Mata Ketiga

tutur halus sang ibu. Lydia terlihat masih sibuk dengan barang bawaannya. Terlihat satu tas ransel cukup besar serta sebuah travel bag warna merah siap dibawanya. Ibunya yang sedari tadi memperhatikan Lydia senyum-senyum sendiri. Dia berharap masa depan anak gadisnya itu lebih cerah saat pindah ke Jawa. Khususnya keistimewaan dari Lydia yang memiliki ‘Mata Ketiga’ karena dapat melihat penampakan makhluk halus, semoga tidak menghalanginya meraih cita-cita di kemudian hari.
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Mutiara Untuk Abang

Mutiara Untuk Abang

Kata Motaz Kata nafkah yang keluar dari mulut Motaz hampir saja membuat Mutiara memekik geli. Bulu kuduknya meremang ketika ingatan soal dirinya yang duduk di pangkuan Motaz kemarin melintas menghantam otaknya membuat tubuhnya bergidik. "M.m.makasih.." Jawab Mutiara gagap, kemudian berpaling menyembunyikan wajahnya yang ia yakin bersemburat merah.
104.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 99 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Air Mata Suami dan Mertuaku

Air Mata Suami dan Mertuaku

"Mas Ammar, kan, masih punya sisa tabungan di bank. Mungkin itu bisa mencukupi kebutuhan hidup kita beberapa bulan ke depan. Bukan begitu, Mas?" "Iya, Ma. Pokoknya Mama nggak usah khawatir, ya. Tabunganku masih ada, kok, meskipun nggak banyak. Sekarang Mama makan dulu, ya. Sudah siang. Nanti Mama masuk angin!" Ammar menatap wajah ibunya dengan hati berdesir. 'Lihatlah akibat perbuatanmu ini, Dek. Kau bukan Marwa yang kukenal. Kau berubah. Kau sungguh kejam, Dek!'
5.713.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 481 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!

TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!

ujar Mami Bertha sambil tersenyum. Mereka mulai makan. Suara sendok dan garpu terdengar bersahutan, sesekali diselingi obrolan ringan dan tawa. “Rendangnya empuk banget,” puji Arnold. “Bumbunya meresap.” “Itu resep warisan nenek saya dari Bukittinggi,” jawab Mami Bertha dengan bangga. Arnold lalu mencicipi ikan asam manis. “Ini juga enak banget. Ada rasa manis, asam, tapi segar.”
10975 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta Yang Sesungguhnya

Andrew membuka kan penutupnya sebelum memberikannya pada Metta. Metta meraih botol tersebut, ia berkumur-kumur terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa tak enak di mulutnya. Dengan cekatan Andrew mengusap sisi mulut Metta yang basah. Metta menggeleng, “Gak usah, Kak. Sebaiknya Kakak balik aja ke mobil, ini jijik banget…” lirih Metta tak enak. “Apa yang jijik, gak kok. Kamu kan istri aku, ngapain juga aku harus jijik,” ujar Andrew.
103.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 112 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Mati Kembar

Mati Kembar

tanya Beni terlihat panik dan penasaran. “Aku juga nggak tahu, Sayang. Yang aku tahu kalian sedang bermain petak umpet sama Mama.” Aku sekali lagi mencoba meyakinkan mereka. Astaga! Jadi tadi aku main petak umpet dengan sosok yang tak berwujud? Kenapa aku harus melalui ini semua? Jawabannya sama sekali tidak kuketahui. Tapi, aku bersyukur karena keluarga kecil ku masih bisa melihat mereka tersenyum saat membuka mata dari mimpi indah mereka.
105.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 153 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Mata Batin

Mata Batin

"Pokonya elu tanggung jawab." "Tanggung jawab apa? Emangnya gua hamilin siapa?" tanya Bolot polos. "Siapa yang mau dihamilin elu?" Menjitak kepala botak Bolot. "Siapa juga yang mau sama Mpok," sindirnya. "Eh, kurang ajar!" "Ampun Mpok, becanda." Mpok Atik menarik kuping Bolot hingga ke dapur. "Cuci semua baju gua. Mesin cucinya rusak." Mendorong tubuh Bolot untuk masuk ke kamar mandi.
1019.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 577 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
MADU DARI MERTUA

MADU DARI MERTUA

tanya Bunda Sania. "Eh, mana oleh-olehnya yang Bunda minta, pasti lupa," ejek Bunda Sania pada anak dan menantunya. "Pasti lupa kan," ucapnya tertawa. "Eh, ingat ya. Jangan ditunda-tunda lagi. Bunda mau rumah ini penuh dengan riuh tawa cucu-cucu Bunda," ujar Bunda Sania tersenyum. "Iya, Bunda. Doakan aku ya biar bisa segera hamil. Aku kan keturunannya Bunda, subur," ujar Dinda.
1022.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 502 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
RETAK

RETAK

Takut kalau perempuan itu berbuat nekat atau mengurung diri berhari-hari yang menyebabkan dirinya depresi. Dengan sekali tarikan napas. Akhirnya Vitaloka mengangguk mengiakan ajakan Ika. Ika menuntun Vitaloka menuruni anak tangga. Dada Vitaloka bergemuruh hebat melihat betapa banyaknya tamu yang berkumpul. Vitaloka menyelipkan anak rambut ke beakang telinga. Merasa risi ketika di tangga terakhir, tatapan para tamu kini tertuju padanya.
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 100 kali sebagai otak mumet
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status