Desah Di Kamar Sebelah
Nami bertanya menggebu-gebu.
“Sepertinya tebu, Ma. Kan, kebetulan di sana juga dekat sama pabrik gula. Tanah itu dulunya memang sempat ditanami tebu. Namun, juragannya kehabisan modal karena asyik berjudi. Jadinya, tanah itu sudah nganggur selama bertahun-tahun. Mau disewa sama orang lain juga harganya selalu nggak cocok. Juragan itu selalu kasih harga yang mahal. Untungnya pas dibeli Papa dia manut dan malah mau ditawar.” Nalen menjawab lancar. Dari tatapan matanya, anak itu terlihat bukanlah anak sembarangan. Dia pintar, cerdas, sekaligus berwibawa. Beda jauh dengan Bayu yang terkesan lebih pandir dan mudah dibodohi.