Aku Menantumu Bukan Musuhmu, Bu!
Ternyata setelah kupikir, di balik kepahitan hidup yang kualami, masih banyak orang yang sayang denganku.
***
Pagi itu, tampak Painem sedang menjemur kerak seperti biasa, dengan secuil suntil yang melekat di bawah bibirnya, diiringi alunan sinden yang biasa ia nyanyikan.
“Bu Painem, kapan, sih, pesta cucumu itu?” celetuk seorang wanita yang melintas di depan rumahnya.
“Ya, nantilah, kalau udah tiba waktunya, kan, tak kabari,” jawabnya santai.
Hot Chapters