여기 pantun santri kocak와 관련된 100개의 소설이 있습니다. 일반적으로 pantun santri kocak와 같은 이야기는 Romansa, Urban 및 Gairah 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Love You Aleea 부터 시작해보세요!
seloroh Panji, salah satu tetangga sekompleksnya Ijan, hanya berbeda cluster.
"Tega kamu, Pan. Masa aku disamain kayak hamster?" protes Ijan.
"Terus maunya disamain kayak apa? Tikus?" tanya Panji.
"Anak ayam," sela Humaira.
"Bebek," tukas Tie.
"Angsa," sambungku.
"Lebih cocoknya anak orang utan," kelakar Brenda yang seketika menciptakan tawa kami.
"Makin jago ngeledeknya nih, para cewek," tutur Sandy.
tanya Satria tak sabar.
"Bang, pantesan tebal, uang dua ribuan, satu, dua, tiga, empat, lima, .... lima puluh ribu, Bang, Alhamdulillah, paling mendingan dari yang lain, ha ha ha ...." Satria dan Haya lagi-lagi tertawa.
BACA novel berjudul :FREL.
Banyak kejutan di dalamnya. Selain tentang cinta segitiga yang bikin baper, gemes dibumbui humor dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi dg persahabatan, keluarga, luka dan rahasia di masa lalu orangtua yang akan membuat cerita lebih seru dan menjungkirbalikkan perasaan.
Kalimat demi kalimat sapaan telah ia susun untuk menyapa setiap warga yang nanti akan dilewati.
Duh! Emas masih di dasar sungai, belum di genggaman, tetapi ambisi untuk pamer sudah meledak-ledak.
“Mamah meni menor pisan kayak mau kondangan,” komentar Santi sambil menahan tawa.
“Tong nyengseurikeun kolot, doraka (jangan menertawakan orang tua, durhaka)!” ucap Lilis membalas candaan Santi.
Wajahnya yang mirip bintang drama Korea dengan gaya bicara tengil khas Betawi adalah kombinasi yang mematikan bagi kaum hawa.
“Neng Zea,” ujar Bang Pay sambil mengedipkan sebelah mata, tawanya masih tersisa. “Nanti kita lanjut lagi pantunnya habis lagu ini. Sekarang Neng harus nyanyi dulu. Kalau enggak, nanti Abang bisa dipecat... rencana kita ke penghulu bisa batal!”
Ujaran nakal itu disambut ledakan tawa yang memenuhi kafe. Suasana terasa begitu hangat, akrab, dan penuh keceriaan.
'Tulisannya bagus," batinku memuji tanpa sadar. Tiga tahun menikah, aku bahkan tak tahu bagaimana tulisan Aini. Kata demi kata, aku kembali meneruskan membaca goresan itu.
------
"Seorang santriwati menginjak tanah haram!" teriakan salah satu santri putra membelah pagi di asrama Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Jibran yang baru saja selesai berseragam, melongok keluar kamar.
"Siapa?" tanyanya lantang.
"Sepertinya santri kelas 10!" jawab Fatah dengan terengah-engah.
"Ana kesana sekarang!"
Istri Sang Tuan
Pandangan Davina dan Dirga saling bertemu untuk beberapa saat yang lama. Kedua pasang mata mereka saling melekat satu sama lain.
“Siapa dia?”
Brian dan Davina menoleh, keduanya saling pandang sejenak sebelum menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
“Pelayan Anda.”
“Keponakanku.”
Kening Dirga berkerut dengan kedua jawaban tersebut. Menatap Davina dan Brian bergantian.
“Kamu... Apa yang kamu lakukan?”
Johan menggenggam pergelangan tanganku dengan erat hingga aku menjerit kesakitan.
Tapi dia malah tersenyum dan berkata dengan gembira.
“Bu Guru pakai baju gini pasti susah buang sampah, 'kan? Aku bantu buang saja.”
Aku begitu gugup sampai dadaku bergetar.
Tapi tatapan matanya tidak pernah lepas dariku!
Hanya saja, apa maksud dari perasaan menantikan dariku yang tidak dapat dijelaskan ini.
Namun Ratu justru tahu apa maksud dari patung itu.
"Pendekar Guntur Saketi pernah sekali tengah membuat patung ini, dia seperti sedang membaca sebuah syair. Namun lirik dari syairnya sedikit aneh. Seolah dia tengah menyampaikan sesuatu padaku." ucap Ratu membuat Jaka menoleh ke arahnya dan dengan pandangan penuh harap Jaka bertanya,"Apa yang dia katakan Ratu?"
BAB 155 PENYESALAN ELANG
“Zahra! kau mau ke mana, Nak?!” baskoro berteriak memanggil menantunya yang sedang berlari sembari menangis. Namun sang menantu tak mengindahkan panggilan dari papah mertuanya. Dia terus berlari membawa hatinya yang lara.
“Ada apa lagi sih!” Baskoro meletakkan sendok di piring. Selera makannya rusak gara-gara melihat drama pagi ini.
Zera yang menang, berseru,
“Ini sih insting ibu-ibu!”
Game kedua, baby food challenge. Para tamu ditutup matanya dan harus menebak rasa makanan bayi.
“Ini rasa apa?” tanya panitia ke Farez.
Farez meringis,
“Wah ini kayak pepaya basi dicampur tahu kukus?”
“Ha-ha-ha.”
Semua tertawa terpingkal-pingkal. Marsha menutup wajahnya sambil tertawa geli.