Silakan, Urus Putrimu Tanpa Aku
"Alhamdulillah, katamu? Musibah, kok alhamdulillah?"
Soni bangun. Dia menyandarkan punggung ke kepala ranjang dengan tangan menggenggam tanganku.
"Sebenarnya, yang dimaksud Satria, banjir itu, bukan kedainya, tapi orderannya. Alhamdulillah .... mulai lusa, kami harus menyediakan dua ratus cup kopi dalam berbagai varian rasa, untuk karyawan sebuah perusahaan swasta."
"Dua ratus? Bukannya tiap harinya lebih dari itu? Berarti rugi, dong kalau hanya melayani untuk perusahaan tersebut?"