Dibuang Suami, Dicintai Ipar
Ia melayani Zayyan layaknya raja, menelan makian sebagai ujian kesabaran, dan memaafkan cubitan sebagai bentuk pendewasaan diri.
Namun, air mata yang jatuh ke pangkuannya setiap hari membuat Humey bertanya-tanya.
Jika aku sudah patuh, jika aku sudah taat, lalu di mana letak rida yang dijanjikan itu?
Apakah Tuhan benar-benar rida melihat hamba-Nya dihancurkan di balik topeng kepatuhan?
Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan, terkubur bersama rasa takut yang kian mencekik.