Filtres
Updating status
AllOngoingCompleted
Trier par
AllPopulairesRecommandationsNotesMis à jour
Two Side

Two Side

gumammu terisak. Seraya berteriak dan menangis seorang diri di tepian batu karang, terus saja kamu pukul bebatuan yang ada di sana secara membabi buta hingga membuat tangan terluka. Darah mengucur dengan derasnya, dan ombak semakin mengganas. Kamu mendaki batu karang itu perlahan, kemudian memejamkan mata perlahan hingga akhirnya membenamkan diri ke dalam lautan.
103.9K VuesEn coursAjouté à la bibliothèque 85 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Cinta Sagita

Cinta Sagita

Batu itu bewarna lebih gelap daripada batu yang dipegang oleh Sagita. "Kamu tahu Git? Jidan cukup sering menulis kata I Love U di atas batu-batu yang ada di taman ini. Lalu batu-batu itu dilemparkan ke dalam kolam ini. Dan satu hal yang harus kamu tahu, batu-batu itu dituliskan Jidan sambil ia memandang ke arah kamu." Wajah Sagita pias begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Jidan. Ia merasa bingung dengan perkataan Jidan.
1014.8K VuesComplétéAjouté à la bibliothèque 532 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Brajasena Sang Ksatria

Brajasena Sang Ksatria

Ia memisahkan sebagian kecil Jiwa -nya untuk mencetaknya, dan Batu penulis memancarkan cahaya biru redup, menandakan selesainya penandatanganan. Dai di sisi berlawanan bergerak cepat dan lincah. Saat Brajasena meletakkan Batu penulis , ia sudah selesai mencetaknya dan melemparkannya kembali ke Ki Demang Bagaskara , bahkan menatap Brajasena dengan tatapan provokatif. "Apa kau ingin mati sebegitu buruknya?" Brajasena bergumam, lalu melemparkan Batu penulis kembali ke Ki Demang Bagaskara .
101.4K VuesComplétéAjouté à la bibliothèque 28 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah

Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah

Begitu suara itu menghilang, salah satu bayangan perlahan melangkah maju. Ia adalah seorang lelaki tua dengan tubuh kurus. Pergelangan tangannya masih memperlihatkan bekas rantai yang telah menyatu dengan kulit. Matanya tidak menyimpan kebencian, hanya kelelahan yang seolah telah bertahan selama puluhan tahun. "Aku bekerja di tambang batu roh." Suaranya pelan. "Anakku mati karena longsor." "Keluarga Wang berkata itu bencana."
107.9K VuesEn coursAjouté à la bibliothèque 261 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Pendekar Salah Zaman

Pendekar Salah Zaman

“Batu marmer apa batu kali?” Agung langsung nyengir lebar. “Batu ginjal kali, Ngga.” Rangga langsung melotot. “Gue timpuk lu pake gelas nih.” Putra ketawa kecil, sementara Wira hanya memperhatikan tanpa komentar. Rangga langsung duduk sambil narik kursi sedikit. “Ngomongin apa sih?” Putra langsung menjelaskan kejadian tadi—dari kopi tumpah, jidatnya ditepuk, sampai sekarang badannya terasa lebih ringan.
10654 VuesComplétéAjouté à la bibliothèque 25 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
DARI KELAPARAN MENUJU KEKUASAAN

DARI KELAPARAN MENUJU KEKUASAAN

"Bukannya jangan ikut, kalau kak Hendra bisa milih ya gakpapa, karena kebanyakan nih ya orang biasa seperti kita asal dalam memilih batu, yang ada malah rugi" "Ahhhh sialannnn, sudah habis 10 jt tapi tidak mendapatkan batu apa-apa, dasar penipu, tempat kalian tukang tipu orang ahhhhh". Ketika Andika sedang menjelaskan kepada Hendra mengenai judi batu, tiba-tiba terdengar seseorang yang membuat keributan lantaran rugi dalam judi batu.
592 VuesEn coursAjouté à la bibliothèque 22 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?

Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?

Senia. Gadis kecil yang dulu datang kepadanya dengan tangan gemetar, membawa selembar lirik lagu yang ditulis dengan air mata. Gadis yang ia lindungi, yang ia rahasiakan, yang ia kira akan tumbuh dan bertahan. Namun kini… yang tersisa hanyalah berita kematian yang kejam. Setelah satu jam mencari kepastian, Axel mengetik. “Adik kecilku… mengapa semua orang meninggalkanmu? Dunia terlalu gelap untukmu. Kakak akan menyimpanmu dalam setiap nada yang kau tinggalkan.”
10468 VuesEn coursAjouté à la bibliothèque 17 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Membuang Bulan Demi Batu Biasa

Membuang Bulan Demi Batu Biasa

Suara tidak keras, tetapi kata-kata kotor, tawa ejekan, suara kain yang robek, semuanya seperti jarum menusuk telinganya. Dia mengulurkan tangan untuk mencabut flashdisk, tetapi jari-jarinya gemetar hingga tak tepat sasaran. Akhirnya, dia menariknya dengan paksa, bahkan laptop ikut jatuh ke lantai. Layar menjadi gelap. Dia bersandar pada meja, terengah-engah. Dadanya seperti tertindih batu besar, pandangannya mulai menggelap. Di benaknya terus berulang wajah putrinya yang putus asa.
3.2K VuesComplétéAjouté à la bibliothèque 127 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Resep Rahasia Sang Pecundang

Resep Rahasia Sang Pecundang

Tidak ada ukiran, tidak ada cahaya. “Ini apa, Mang? Batu akik?” tanya Adrian skeptis, mencoba memecah ketegangan dengan sinismenya yang biasa, meski suaranya sedikit bergetar. “Ini Batu Sungai Jiwa,” jawab Mang Gede, mengabaikan Adrian dan menatap lurus ke arah Radit.
953 VuesComplétéAjouté à la bibliothèque 31 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Cinta Sejatinya

Cinta Sejatinya

Agar mudah berkomunikasi mengenai detailnya, aku menambahkan kontak desainer tersebut. Selama waktu tunggu, Dimas dengan penuh kasih sayang mengelus tangan Janet, berusaha menghiburnya, “Batu yang tidak berharga, jika kamu memakainya, itu malah menurunkan status kamu. Jangan sedih, aku akan pergi ke lelang Christie dan membeli batu permata yang paling berharga untukmu.”
10.0K VuesComplétéAjouté à la bibliothèque 298 fois en tant que pengarang batu menangis
Read
+Librairie
Dernier
1
...
5678910
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status