SUAMIKU MATI DI TANGANKU
Lagi dan lagi, air mataku luruh menyesali diri.
Dulu, sewaktu aku rapuh saat ditinggal Mas Firman, aku menjadikan media sosial sebagai tempat pelarian untuk melepas penat hati. Aku curhat segala hal dan kemudian menjadi seperti diary. Berawal dari F******k, kemudian beralih ke tiktok. Di tiktok, aku merasa nyaman karena akunku sepi tanpa follower. Aku bebas berbicara apa saja di sana dengan rekaman video. Rasanya, saat membuat konten itu, perasaanku plong dan ringan. Akhirnya menjadi candu tersendiri. Lama-kelamaan, videoku banyak yang menonton. Mereka, para followers berkomentar pada postinganku dan seringnya ikutan curhat atas nasib masing-masing. Kata mereka, apa yang aku rasakan sangat r