ANAK TUKANG CUCI PIRING
Mataku memicing saat melihat sesuatu yang terasa aneh.
Benar, tubuh lelaki itu nampak bergetar, kepalanya menunduk dalam, satu tangannya memegangi batu nisan. Sadar jika dia tengah menangis, hatiku ikut nyeri, tapi entah karena apa. Aku sendiri merasa bingung, nyeri karena ikut bersedih, atau nyeri karena sebuah rasa cemburu semata.
Lagi, aku beristigfar, lalu berhenti menatap ke arah sana. Kusingkirkan segala perasaan yang membebani hati ini dengan cara meminum es teh manis pemberian si penjual.