Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Bolehkah Aku Menangis

Bolehkah Aku Menangis

Sedikit gugup, aku menunduk dan berlalu ke toilet membersihkan wajah. Keluar dari toilet, mereka masih memandangiku. Aku kembali ke pembaringan, di dekat mereka. "Kau menangisi apa?" tanya Nona Muda. "Adik-adikku ... Kak," jawabku sesak. Berusaha terlihat tegar di hadapan mereka. "Ceritakan saja, Dik! Aku bersedia membantu," pinta Nona Muda duduk bersandar. Aku hanya bisa menunduk. Tak ingin tangisku pecah jika menceritakan semuanya. Namun, Nona Muda dan Maya tampak menunggu saat aku mengangkat wajah.
3.1K viewsOngoingAdded to Library 93 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
Pembalasan Menantu Terkuat

Pembalasan Menantu Terkuat

cerita bu Aisah. "Dan waktu kecil tidak pernah menangis Lak, itu hebatnya Bara," ujar bu Aisah. "Tidak ada yang perlu di tangisi," ujar Bara tersenyum. "Dia pernah kelahi Pak, kena lemparan batu keningnya bocor. Dan dia sama sekali gak nangis, Pak," cerita bu Bira. "Emang kamu gak balas?" tanya Bizar.
1016.5K viewsCompletedAdded to Library 446 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
CEO Bertopeng Giok

CEO Bertopeng Giok

"Tapi bukan hanya rasa sakit. Ada… kemarahan yang luar biasa. Seperti sesuatu yang sangat kuat telah dikurung secara tidak adil dan telah meronta-ronta selama berabad-abad. Retakannya… seperti kaca yang dipukul, menyebar dari satu titik, seolah topeng itu akan pecah berkeping-keping." Sementara Kian mencerna informasi itu, Elara merasa tarikan aneh dari batu itu semakin kuat. Ia tidak berani menyentuhnya lagi, tetapi ia bisa merasakannya. Sebuah denyutan energi yang suram, penuh dengan penderitaan dan kesunyian yang panjang. Ia memutuskan untuk mencoba sesuatu. Memfokuskan pikirannya, ia memejamkan mata dan mencoba meraih kembali koneksi yang ia rasakan tadi, membuka dirinya pada "bisikan" d
893 viewsOngoingAdded to Library 28 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

Darah emasnya menetes di lantai kertas kristal, namun setiap tetes darahnya justru menjadi tinta emas yang menulis ulang tanah di bawahnya agar tunduk pada perintahnya. "Aku tidak bisa dihapus," geram Surya, sambil memutar tubuhnya dan memberikan tendangan putar yang diperkuat energi gravitasi tepat ke pusat buku sang Pustakawan. "Karena aku adalah penulis dari rasa sakitku sendiri!" Penaklukan Batin: Ujian Kejujuran
782 viewsOngoingAdded to Library 21 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
SANG MENANTU TERBUANG

SANG MENANTU TERBUANG

Tatapan yang bukan lagi berisi cinta yang buta, tetapi kekecewaan yang telah mengeras menjadi es. ​Di tengah tatapan dingin itu, sebuah bayangan aneh melintas di benak Arya. ​Bukan bayangan Kinanti, bukan juga wajah Bramantya yang sinis. Tapi, bayangan yang kabur...sebuah aula besar yang gelap, suara tembakan yang memekakkan telinga, dan bau amis darah yang menyengat. Secepat kilat, bayangan itu lenyap, meninggalkan sakit kepala berdenyut dan sensasi aneh di telapak tangannya, seolah ia baru saja memegang senjata berat.
10785 viewsOngoingAdded to Library 20 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
Cinta yang Terenggut

Cinta yang Terenggut

Dia mengajak Valentina dan Simon kecil untuk meninggalkan tempat itu. Jonathan berjongkok di depan nisan Theresia. Diusapnya foto almarhumah istrinya dengan penuh kasih sayang. "There, Sayangku," ucapnya sambil tersenyum. "Aku dan Karin sudah berupaya semaksimal mungkin bagi anak kita. Semoga kamu puas, ya. Bagaimana kabarmu, Sayang? Aku tahu kamu selalu menemani perjalanan kami selama sepuluh tahun ini. Sekarang giliran kami yang datang kemari mengunjungimu. Kelak kami akan sering-sering datang, There. Karin sekarang sudah menjadi penulis novel online ternama. Novelnya yang berjudul Cinta Yang Terenggut laris manis. Dibuat dalam versi bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Bahkan sampai d
1015.3K viewsCompletedAdded to Library 428 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Malam menggigil. Suara perempuan itu masih menggema samar di udara seperti embusan angin yang menyelusup lewat retakan batu: "...Jangan lupakan kami. Jangan serahkan Tilangkar pada masa lalu." Rimba memandangi batu rekam yang kini redup di tangannya. Kulitnya bersinar lembut di bawah cahaya api unggun, seolah-olah masih menyimpan detak emosi pemilik suara. Dia menghela napas pelan, berat.
101.8K viewsCompletedAdded to Library 72 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
Kamu yang Menolakku, Kenapa Kamu Menangis?

Kamu yang Menolakku, Kenapa Kamu Menangis?

Dia menangis dengan sangat sedih. "Kamu sudah sangat tua, kenapa kamu menangis? Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja." Bonar terlihat sedikit tidak sabar. Kemudian, Gito menyeka air matanya dan berkata, "Pak Bonar, aku mencarikan dokter genius itu untukmu. Siapa sangka lelaki tua itu begitu sombong. Dia menampar wajahku. Aku ingin memberinya pelajaran, tapi aku nggak menyangka lelaki tua itu sangat kuat. Aku bukan tandingannya, jadi ...."
9.372.6K viewsCompletedAdded to Library 1.8K Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
Teror Ghaib

Teror Ghaib

Semoga sebelum aku pulang aku bisa nemuin buat kamu. Emma mengetik dengan cepat. Emma: Aku menemukan batu yang sangat indah di hutan. Kayak permata. Aku bakalan menghasilkan banyak uang kalo aku jual batu itu. Dengan uang itu, aku akan membeli barang-barang mahal biar nggak ada lagi yang bisa ngejek aku dan bully aku. Tapi batu itu hilang. Aku nggak tahu persis di mana batu itu jatohnya. Tapi kayaknya itu di tengah hutan.
3.6K viewsCompletedAdded to Library 119 Times as pengarang batu menangis
Read
+Library
PREV
1
...
34567
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status