여기 pentingkah aku bagimu와 관련된 100개의 소설이 있습니다. 일반적으로 pentingkah aku bagimu와 같은 이야기는 Romansa, Lainnya 및 Rumah Tangga 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Kini, Aku Belajar Melepasmu부터 시작해보세요!
"Ibu, aku nggak sanggup berpisah darimu. Aku nggak mau pergi."
"Aku masih ingin terus memakan masakanmu. Aku ingin tetap berada di sisimu. Aku benar-benar menganggapmu sebagai ibuku. Semua yang terjadi dulu adalah salahku. Aku minta maaf padamu!"
Sambil menggertakkan gigi, dia menahan rasa perih yang melilit di perutnya yang kosong, lalu berlutut di hadapan Vanya.
Tubuh kecilnya bergoyang limbung beberapa kali. Belum genap beberapa menit dia bertahan, kesadarannya hilang dan dia pun pingsan.
Lelaki Yang Kau Tolak Jadi Suami Ternyata Seorang Milyarder Tampan
#TERIMA_KASIH_TELAH_MENCINTAIKU (22)
Selamat Membaca!
“Enggak, Mas … aku gak pantas untukmu! Aku tidak keberatan jika kamu menceraikanku, Mas! Biarkan aku hidup sendiri! Biarkan aku mengurus Ibu di sini! Aku ingin memeluknya. Aku ingin menguatkannya. Aku ingin bersamanya. Ceraikan saja aku, Mas! Aku gak pantas untukmu ….”
BACA novel berjudul :CEWEK AGRESIF VS COWOK POLOS. kalian akan menemukan dari percintaan remaja sampai dewasa yang bakal bikin kita gemas sendiri, seru, ketawa ngakak bahkan geregetan dan terharu setelah beberapa tokoh bermunculan semua. Jangan lupa vote dan komen ya. Mksh.
Nisa Nurpasa
Yuk Baca Novel Menikahi Gadis Desa -->
Sarah Larasati, terpaksa menerima perjodohan dengan seorang pria kota bernama Fabian Aditama. Bukan tanpa alasan ia menerima perjodohan ini, hutang sang ayah lah yang menjadi penyebabnya. Akankah Sarah hidup bahagia bersama pasangannya kelak?
Send masagge by Shanin
‘Ah kau tau, aku sangat merindukan mu,tetapi mungkin keadaan ku tidak cukup baik hari ini'
‘Jadi maafkan aku bila aku tak dapat menemui sekarang’
****
‘Ah baiklah, mungkin setelah aku tiba nanti, aku akan segera menemuimu sayang'
‘ku harap kau menunggu kedatangan ku. I love you more♡'
****
‘Baiklah, aku juga'
Aku benci mengakuinya
Aku masih merindukanmu
Bagaimana aku bisa melupakannya
Hari dimana kau berbohong padaku
Kita tidak tahu apakah kita bisa kembali seperti semula
Katakan apa yang harus aku lakukan
Aku tahu kamulah satu-satunya yang membuat kehancuran ini
(i won’t to admit it ~ Bangchan)
bentak Lexsa
"Dasar gak punya malu, gak ada hati, lo pikir gue pantung yang gak punya perasaan. Udah dua kali lo udah buat hati gue sakit. Pertama lo mau bikin gue mati kehausan dengan cara gak bawaiin gue minum, dan kedua lo malah enak enakkan berpelukan sama Feby yang lo anggap sahabat itu sampai lupa waktu ia. Bagus."
Entah kenapa aku merasa lemah.
"Aku tinggal dulu, ya, Rin," pamitnya. Aku hanya mengangguk menanggapi.
"Akan Mas pertimbangkan lagi permintaanmu. Maafin Mas, ya," ucapnya, mencium keningku. Haruskah aku berharap jika Mas Hilman mengabulkan keinginanku?
"Tutup pintunya, Mas," pintaku. Mas Hilman mengangguk kemudian keluar.
Cukup lama Hanin larut dalam tangis yang membuatnya merasakan sesak, sampai mata Hanin hampir saja kembali terpejam.
Hanin tidak sadar jika sedari tadi Adam mendengar apa yang ia ucapkan. Tubuh tinggi itu keluar dari persembunyian, memandangi punggung sang mantan dengan lekat sebelum mengeluarkan pertanyaan yang membuat Hanin kembali membuka mata lebih lebar.
"Apa maksud ucapan kamu tadi, Hanin? Apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini?"
*
*
*
Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada selembar kertas kecil yang tersembunyi di celah pot bunga.
Dia pun mengeluarkan surat itu. Melihat tulisan yang familier, tangannya terhenti.
Surat itu adalah sepenggal hatiku yang belum pernah benar-benar bisa aku lepaskan dalam lima tahun ini.
[Obat itu tidak membuatku langsung lupa. Ia bekerja perlahan, menghapus satu per satu memoriku tentangmu. Tapi selama tiga hari ini, aku melihat semuanya. Perhatianmu hanya untuk Clara. Kau bahkan berbohong padaku. Aku sudah melihat semuanya.]
Entahlah ….
Perlahan, Aditya kembali melepas genggaman tangannya. Lalu meraih paparbag yang ada di sebelah tempat duduknya. Menyodorkannya di hadapan Ayumi. “Sajadah merah ini telah menjadi saksi bisu atas air mata, juga doa-doa harapan yang aku langitkan untuk kita sebelum ini. Aku harap, kamu mau menyimpannya sebagai kenang-kenangan terakhir dariku.”